Aktor, Syakir Daulay. (Foto : Instagram @syakirdaulay)

Halloseleb.com, Jakarta – Syakir Daulay merasa dirugikan dengan perjanjian kontrak kerja sama antara dirinya dengan pihak label musik ProAktif. Aktor berdarah Aceh itu mengaku mendapat keuntungan tidak wajar di balik kerjasamanya tersebut. Syakir mau menandatangi kontrak kala itu karena dia sedang terdesak secara keuangan.

“Pada waktu itu Syakir lagi terdesak butuh uang. Dikenalkan ke dia sama orang baik. Dia bilang akan memberikan pinjaman,” ucap Syakir Daulay saat di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dalam perjanjian kontrak tersebut dinyatakan, katanya, Syakir hanya mendapat keuntungan 9 persen dari kerjasama ini. Pemain film Mariposa itu menganggap pembagian keuntungan tidak memenuhi aspek keadilan.

Syakir Daulay dan teman-temannya. (Foto : Instagram @syakirdaulay)

“Pas lihat kontrak, kok Syakir cuma dapat 9 persen dari lagu. Syakir minta 70 persen tapi mereka nggak mau. Terus Syakir minta 50 persen mereka tetap nggak mau,” ungkapnya lebih lanjut.

Syakir Daulay semakin merasa isi kontrak tersebut tidak memenuhi aspek keadilan karena ide dari pembuatan konten YouTube berasal dari dirinya. Dan dia juga yang terkadang mengedit sampai mempromosikan kontennya. Tidak hanya itu, Syakir Daulay juga bertugas membangun kerjasama dengan youtuber lain untuk semakin membangun kepercayaan penonton.

“Syakir juga yang cari buat kerja sama. Seperti dengan Baim Wong dan Raffi Ahmad. Ngedit juga kadang-kadang dari tim Syakir. Mana ada YouTuber yang mau dibayar 15 persen,” ungkapnya lebih lanjut.

Baca : Polisikan Syakir Daulay, Bos Proaktif Group Nulis Begini

Sementara itu, aktivis hak azasi manusia Haris Azhar, eks Ketua Komisi untuk orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) — selaku kuasa hukum Syakir Daulay mengatakan bahwa kontrak kerja sama antara kliennya dengan pimpinan label ProAktif batal demi hukum.

Alasannya, kontrak kerja sama dilakukan pada saat Syakir Daulay masih di bawah umur dan tidak ada yang mendampinginya. Yang cukup mengejutkan, dalam kontrak disebutkan masa kontraknya berlaku seumur hidup dan tidak ada fasilitas menuntut untuk ganti rugi bagi Syakir.

“Kontraknya berlaku seumur hidup, padahal kontrak itu harus ada jangka waktunya. Lalu Syakir tidak boleh buat komitmen dengan pihak ketiga mana pun dalam perjanjian tersebut. Dan Syakir tidak paham hal ini ketika mendatangani hal ini,” papar Haris Azhar. (jaw)